0271 664178     fk@fk.uns.ac.id

Fakultas Kedokteran

Universitas Sebelas Maret

Detoksifikasi Tubuh Sebagai Hikmah Optimalisasi Tidur di Malam Hari Berdasarkan Tuntunan Sang Maha Pengatur Hidup

Penyaji Terbaik 1 Kompetisi Karya Tulis Al-Qur’an
PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL XXII 2009

Hafriliantika R (G0008217), Annisa Budiastuti(G0008052), Megawati DI(G0005133)

Upaya menghargai waktu dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan waktu yang tersedia sesuai dengan kemampuan yang dimiliki seseorang. Manajemen waktu yang baik seharusnya tidak hanya terfokus untuk mewujudkan sejumlah prioritas dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga pengaturan waktu tidur yang optimal di malam hari sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Allah dalam QS. Al-Furqaan ayat 47:

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqaan: 47)

Dalam surat lain tercantum QS. Ar-Ruum:23 dan QS. An-Naba’:9

Pada kenyataannya, sebagian besar orang tidak memahami makna tidur berkualitas dan menganggap tidur sebagai suatu rutinitas yang terjadi setiap malam. Seringkali, tidur dilakukan secara tidak teratur. Kualitas tidur yang kurang optimal tersebut menyebabkan sistem tidur menjadi tidak seimbang sehingga tubuh kehilangan energi lebih besar. Berdasarkan studi yang dilakukan University of California, diketahui bahwa orang yang tidur selama delapan jam atau lebih memiliki tingkat mortalitas 50% lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kuantitas lamanya tidur tidak memberikan pengaruh positif pada seseorang, justru yang lebih penting adalah kualitas tidur yang menentukan kualitas fisik, mental, dan emosional seseorang.

Allah menciptakan manusia dan organ-organ tubuhnya untuk bekerja di waktu siang dan beristirahat di malam hari. Manajemen waktu tidur optimal di malam hari dalam tuntunan Islam dapat ditelaah dari QS. Adz-Dzariyaat ayat 15-18:

(15) Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, (16) Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. (17) Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (18) Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

Rasulullah juga mencontohkan untuk tidur di awal malam dan bangun di awal sepertiga malam terakhir.

“Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah membenci tidur sebelum Isya’ dan bercakap-cakap setelahnya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra., bahwasanya Nabi saw. biasa tidur pada permulaan malam dan bangun pada akhir malam, kemudian mengerjakan salat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidur optimal berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah di atas dapat dibuktikan kebenarannya. Dr Ray Meddis, profesor di Department of Human Sciences, England University of Technology, mengatakan bahwa manusia sebenarnya hanya perlu tidur malam selama tiga jam. Oleh karena itu, pengaturan waktu tidur yang baik haruslah sesuai kadar yang dibutuhkan dan dilakukan secara optimal.

Selain tidur di awal malam, Rasulullah menganjurkan untuk mematikan lampu ketika tidur. Hal tersebut sesuai dengan hadits:

"Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut dapat dijelaskan melalui mekanisme fisiologis pada manusia. Saat kondisi lingkungan mulai gelap, sintesis dan sekresi hormon melatonin oleh kelenjar pineal meningkat. Produksi hormon ini mempengaruhi aktivitas otak dalam menimbulkan rasa kantuk, sehingga semakin malam, orang akan merasa semakin mengantuk. Fungsi dari rasa kantuk adalah sebagai sinyal positif tubuh agar segera mengistirahatkannya. Hormon yang mempengaruhi irama sirkadian ini kemudian akan menyesuaikan sehingga terjadi sinkronisasi antara siklus tidur dengan siklus pergantian siang dan malam di lingkungan.

Tidur yang berkualitas di malam hari merupakan upaya optimalisasi dalam detoksifikasi untuk menetralisir toksin yang mengontaminasi tubuh. Detoksifikasi tubuh, terjadi terutama pada hati, tercapai optimal saat tidur. Mekanisme tersebut berkaitan erat dengan diproduksinya antioksidan sebagai penetral toksin. Pada tidur yang berkualitas, detoksifikasi hati dapat berjalan optimal, khususnya dalam pembentukan asam amino glutathione sebagai antioksidan yang menetralisasi stres oksidatif dan radikal bebas.

Berdasarkan pembahasan dalam karya tulis ini, dapat disimpulkan bahwa dalam tuntunan Islam, manajemen tidur di malam hari dilakukan dengan tidur di awal malam dan bangun di awal sepertiga malam dengan mematikan lampu saat tidur. Tidur yang berkualitas di malam hari melalui manajemen tersebut menjadikan detoksifikasi hati berjalan optimal melalui pembentukan antioksidan yang menetralisasi stres oksidatif dan radikal bebas. Demikian, Islam telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Apabila umat Islam mengamalkannya secara keseluruhan tentu akan bermanfaat di dunia maupun akhirat. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah berikut:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)



Kontak Kami

JL Ir Sutami 36A
Surakarta , Jawa Tengah 57126

 0271 664178     fk@fk.uns.ac.id
© Hak Cipta 2010-2018 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta