Perkuat Mutu Layanan Kesehatan Primer, RG MHPE FK UNS Latih Dokter Puskesmas se-Soloraya sebagai Preseptor Klinis

Dalam sistem pelayanan kesehatan primer, dokter Puskesmas tidak hanya berperan sebagai klinisi, tetapi juga sebagai pembimbing klinik (preseptor) bagi mahasiswa profesi kesehatan yang menjalani praktik lapangan. Kualitas pembimbingan ini turut menentukan mutu pendidikan klinik sekaligus keselamatan pasien. Karena itu, penguatan kompetensi pedagogik klinik bagi dokter Puskesmas menjadi kebutuhan strategis, terlebih dalam konteks transformasi layanan primer yang menempatkan Puskesmas sebagai fondasi sistem kesehatan nasional.
Pada Selasa (14/7/2026), Riset Grup Medical and Health Profession Education (RG MHPE) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) bersama Tim mahasiswa KKN Rekognisi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Kompetensi Dokter Puskesmas sebagai Preseptor Klinis” di Auditorium Gedung Pendidikan Dokter FK UNS, Surakarta. Kegiatan yang merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan supervisi klinik, penilaian berbasis tempat kerja (workplace-based assessment), serta pemberian umpan balik yang reflektif dan konstruktif kepada mahasiswa.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Bulan Kakanita Hermasari, dr., MMedEd., FFRI selaku Ketua Pengabdian, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan resmi oleh Dr. Annang Giri Moelyo, dr., Sp.A(K)., M.Kes. selaku Wakil Dekan Bidang Nonakademik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Sebelum pemaparan materi, peserta mengerjakan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal.
Materi pertama yang berkaitan dengan interprofessional education dan peran preseptor klinik disampaikan oleh Amandha Boy Timor Randita, dr., MMedEd., Sp.K.F.R. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa peran preseptor menuntut kemampuan khusus yang tidak identik dengan kompetensi klinis semata — meliputi bimbingan belajar, asesmen kompetensi secara objektif, serta perancangan pengalaman belajar bagi mahasiswa di lingkungan layanan primer. Beliau juga memperkenalkan penerapan sederhana workplace-based assessment seperti Mini-CEX dan diskusi berbasis kasus, serta pentingnya mengintegrasikan prinsip patient safety ke dalam proses pembelajaran klinik sehari-hari.
Materi kedua mengenai teknik pemberian umpan balik (feedback) disampaikan oleh Dr. Veronika Ika Budiastuti, dr., M.Pd. Beliau menjelaskan bahwa umpan balik yang efektif seharusnya bersifat reflektif dan konstruktif, disampaikan secara terstruktur melalui dialog dua arah antara preseptor dan mahasiswa, serta diarahkan pada identifikasi kekuatan, area perbaikan, dan rencana tindak lanjut yang konkret. Pendekatan ini terbukti berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran klinik dan kemampuan refleksi mahasiswa.
![]() |
![]() |
![]() |
(Geser untuk foto selanjutnya)
Kegiatan ini juga melibatkan Tim program KKN Rekognisi yang terdiri dari lima mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) sebagai fasilitator dan panitia pelaksana. Kelima mahasiswa tersebut adalah Aliya Salsabila Aflah, Raihan Abdi Arrasyid, Rajiv Abdallah Perwiranegara, Ath Thoriq Luthfi Hanif, dan Deliana Wahidji. Melalui keterlibatan ini, para mahasiswa turut mendukung pelaksanaan kegiatan sekaligus mengembangkan kompetensi komunikasi dan profesionalisme sebagai calon dokter melalui skema KKN Rekognisi P2M.
Kegiatan diikuti oleh sekitar 28 peserta yang merupakan perwakilan tenaga kesehatan dari berbagai Puskesmas di wilayah Surakarta, Klaten, Boyolali, dan Karanganyar. Peserta mencakup beragam profesi — dokter (termasuk sejumlah Kepala Puskesmas), perawat, bidan, dan apoteker — yang mencerminkan semangat kolaborasi interprofesi dalam pembimbingan klinik. Rangkaian pelatihan dirancang secara partisipatif melalui mini-lecture interaktif, diskusi kasus berbasis skenario pelayanan di Puskesmas, serta simulasi dan praktik pemberian umpan balik. Peserta juga diperkenalkan pada instrumen penilaian berbasis tempat kerja (workplace-based assessment), yakni metode menilai kompetensi mahasiswa langsung saat berpraktik, seperti Mini-CEX (mini clinical evaluation exercise) — observasi singkat terhadap interaksi mahasiswa dengan pasien — dan diskusi berbasis kasus nyata. Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh sesi dan aktif berdiskusi serta mengajukan pertanyaan kepada para pemateri. Pada akhir pelatihan dilakukan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, yang menunjukkan hasil positif dengan rata-rata penguasaan materi mencapai 95,8%.
Melalui kegiatan ini, Ketua Pengabdian menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi aktif seluruh peserta dan berharap pelatihan yang telah diberikan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat mutu pembelajaran klinik berbasis layanan primer, sekaligus meningkatkan kualitas dan kesinergisan antartenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Kegiatan pengabdian ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan mutu layanan kesehatan primer, SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas pedagogik klinik preseptor, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kemitraan antara perguruan tinggi dan fasilitas layanan kesehatan.
Humas FK UNS
english 






